Tutup Disini
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Aceh

Gadjah Puteh Soroti Pernyataan Wali Kota Langsa: Kritik Tak Bisa Disapu dengan Label “Barisan Sakit Hati”

6
×

Gadjah Puteh Soroti Pernyataan Wali Kota Langsa: Kritik Tak Bisa Disapu dengan Label “Barisan Sakit Hati”

Sebarkan artikel ini
LSM Gadjah Puteh menilai kritik merupakan bagian dari demokrasi dan mengingatkan pentingnya bahasa yang mempersatukan dalam kepemimpinan.
Wali Kota Langsa Jeffry Sentana memberikan keterangan kepada masyarakat saat penyaluran bantuan di Kantor Pos Langsa

Dengan demikian, masyarakat dapat membedakan mana kritik yang sah sebagai bagian dari demokrasi dan mana tindakan yang memang mengarah pada provokasi serta patut diwaspadai.

Menurutnya, seorang kepala daerah tidak lagi hanya berbicara sebagai figur yang memenangkan kontestasi politik, melainkan sebagai pemimpin seluruh masyarakat tanpa membedakan pilihan politik pada masa pemilihan.

Iklan
Sponsor: AtjehUpdate
Iklan
Iklan

Oleh karena itu, setiap pernyataan yang disampaikan kepada publik semestinya mencerminkan sikap yang merangkul seluruh elemen masyarakat, termasuk mereka yang memiliki pandangan berbeda terhadap kebijakan pemerintah.

“Masyarakat Langsa hari ini lebih membutuhkan kepemimpinan yang mampu menyatukan kembali seluruh elemen setelah perbedaan pilihan politik. Energi pemerintah seharusnya diarahkan untuk menjawab kritik dengan prestasi, membalas keraguan dengan kerja nyata, serta merespons aspirasi melalui kebijakan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat,” katanya.

Lebih lanjut, Sayed mengingatkan bahwa penggunaan istilah-istilah politik dalam komunikasi pemerintahan perlu dicermati karena berpotensi menghidupkan kembali sekat-sekat yang semestinya telah berakhir setelah proses demokrasi selesai.

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Menurutnya, rekonsiliasi politik tidak hanya diwujudkan melalui program pembangunan, tetapi juga melalui pilihan kata yang mampu menumbuhkan rasa memiliki bagi seluruh warga tanpa memandang latar belakang politiknya.

“Pemimpin yang besar bukanlah pemimpin yang bebas dari kritik, melainkan pemimpin yang mampu menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada masyarakat. Kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab merupakan bagian dari mekanisme demokrasi untuk memastikan roda pemerintahan tetap berjalan sesuai harapan publik,” tegasnya.

Sayed juga mengingatkan bahwa setiap ucapan pejabat publik memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar penyampaian pendapat pribadi. Di tengah tingginya harapan masyarakat terhadap perubahan, rakyat dinilai lebih membutuhkan bahasa yang mempersatukan daripada narasi yang berpotensi menimbulkan stigma terhadap kelompok tertentu.

“Kepemimpinan yang matang tidak diukur dari kemampuan melabeli pihak yang berbeda pandangan, melainkan dari kemampuan menjawab setiap kritik melalui integritas, transparansi, dan hasil kerja nyata yang dapat dirasakan seluruh masyarakat,” pungkas Sayed.(red)

Sponsor: AtjehUpdate
Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses