Di sisi jembatan, spanduk wajah-wajah dewasa tersenyum lebar. Senyum yang tak pernah luntur oleh lumpur. Janji yang tak pernah kebanjiran. Mereka terlihat hangat, ramah, dan sangat tidak hadir. Barangkali begitulah politik bekerja: wajah boleh dekat, tanggung jawab tetap jauh.
Anak-anak ini belum cukup umur untuk memilih. Tapi mereka sudah dipilihkan nasibnya. Berdiri di pinggir jalan, belajar lebih cepat dari buku pelajaran mana pun bahwa hidup tak selalu adil, dan keadilan sering datang dalam bentuk recehan—jika beruntung.
Kendaraan melintas. Roda berputar. Klakson sesekali berbunyi. Semua bergerak ke depan. Hanya anak-anak itu yang diam, seperti pengingat yang sengaja diabaikan.
Bahwa sebuah negeri bisa membangun jembatan dengan sempurna, tapi tetap gagal menyeberangkan masa depan anak-anaknya.(red)





