Dalam konteks itu, publik tentu dapat menilai dan mempertanyakan secara objektif bagaimana proses penempatan sejumlah jabatan strategis di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Apakah susunan struktur yang ada saat ini sepenuhnya merupakan kebutuhan reformasi yang diinginkan Direktur Jenderal yang baru, atau justru masih terdapat pengaruh dan mata rantai lama yang tetap dipertahankan di dalam sistem.
Pertanyaan seperti ini menjadi wajar muncul di tengah tuntutan publik terhadap agenda pembenahan menyeluruh di tubuh Bea Cukai.
Karena itu, menurut Said Zahirsyah, pembenahan institusi tidak boleh berhenti hanya pada pergantian figur pucuk pimpinan semata, tetapi juga harus menyentuh struktur dan mata rantai birokrasi yang selama ini memiliki pengaruh besar terhadap budaya organisasi dan tata kelola internal.
Kami berpandangan bahwa pembenahan institusi sebesar Direktorat Jenderal Bea dan Cukai tidak akan pernah berhasil apabila hanya berfokus pada Direktur Jenderal semata.
Organisasi sebesar ini digerakkan oleh banyak unsur yang saling berkaitan dan telah terbentuk selama bertahun-tahun.
Karena itu Said Zahirsyah mendorong agar evaluasi dilakukan secara menyeluruh terhadap seluruh jabatan strategis yang memiliki pengaruh terhadap arah organisasi. Reformasi harus menyentuh sistem, tata kelola, budaya organisasi, mekanisme pengawasan, hingga pembinaan sumber daya manusia.
Dari hasil pemantauan Said Zahirsyah bersama LSM Gadjah Puteh terhadap berbagai diskusi publik dan kolom komentar di sejumlah platform media sosial, juga ditemukan adanya berbagai komentar negatif yang ditujukan kepada Letjen Djaka Budi Utama.
Bahkan dari hasil pantauan di beberapa komentar netizen, terdapat sejumlah komentar negatif yang justru diduga berasal dari orang dalam Bea Cukai sendiri. Fenomena tersebut tentu menjadi bagian dari dinamika yang perlu dicermati, namun tidak boleh dijadikan dasar untuk menyimpulkan keberhasilan atau kegagalan seseorang dalam memimpin sebuah institusi yang sangat kompleks.
Menurut Said Zahirsyah, terlalu dini untuk menilai hasil dari sebuah agenda pembenahan yang bahkan belum berjalan lama.
“Publik harus memberikan kesempatan kepada Letjen Djaka untuk bekerja dan menyelesaikan tugas yang dipercayakan negara kepadanya. Jangan sampai orang yang baru masuk untuk melakukan pembenahan justru menjadi sasaran utama, sementara persoalan yang lebih besar tidak pernah disentuh secara serius,” tegas Said Zahirsyah, Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh.
Said Zahirsyah menilai bahwa yang dibutuhkan saat ini bukanlah kegaduhan, melainkan keberanian untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem yang selama ini berjalan.
Reformasi sejati tidak lahir dari pergantian figur semata, tetapi dari keberanian membenahi seluruh mata rantai organisasi secara objektif, profesional, dan tanpa pandang bulu.
Karena pada akhirnya, yang menjadi kepentingan utama bukanlah siapa yang menduduki jabatan tertentu, melainkan bagaimana Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dapat menjadi institusi yang semakin kuat, profesional, transparan, dan mampu menjaga penerimaan negara dari berbagai bentuk penyimpangan yang merugikan bangsa dan negara.
Said Zahirsyah
Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh
“Jangan terburu-buru menilai orang yang baru bekerja. Lihat terlebih dahulu siapa yang selama ini membentuk sistem yang sedang diperbaiki.” (red)





