Meski demikian, secara kumulatif selama Januari hingga Mei 2026, kinerja perdagangan Aceh masih berada pada posisi surplus. BPS mencatat total nilai ekspor selama lima bulan pertama tahun ini mencapai US$281,42 juta, sedangkan impor sebesar US$270,82 juta, sehingga masih tersisa surplus sekitar US$10,60 juta. Namun surplus tersebut menyusut signifikan akibat defisit yang terjadi pada Mei 2026.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi perdagangan luar negeri Aceh masih sangat dipengaruhi oleh fluktuasi impor dalam jumlah besar pada bulan-bulan tertentu. Ketika impor meningkat tajam, terutama untuk komoditas bernilai tinggi, dampaknya langsung terasa terhadap neraca perdagangan, meskipun ekspor daerah masih berada di atas angka US$50 juta per bulan.(red)





