Sayed berpendapat bahwa baik berada di dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan, kedua posisi tersebut sama-sama terhormat dan sama-sama krusial bagi berjalannya demokrasi. Pemerintah membutuhkan mitra pengimbang agar setiap kebijakan yang lahir benar-benar melalui proses pemikiran, evaluasi, dan perdebatan yang sehat.
Ia juga menekankan bahwa negara membutuhkan oposisi untuk menghadirkan perspektif berbeda, memberikan kontrol sosial, serta memastikan lahirnya perdebatan yang komprehensif demi kepentingan rakyat.
Demokrasi tidak dibangun dengan cara mematikan oposisi, melainkan dengan menghargai perbedaan pandangan sebagai bagian dari proses pendewasaan politik dan tata kelola pemerintahan.
Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang membungkam kritik, melainkan pemerintahan yang mampu menerima masukan dengan kepala dingin dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi demi perbaikan bersama.
“Kami percaya, daerah ini tidak akan maju jika ruang kritik dipersempit. Kemajuan hanya akan lahir ketika pemerintah dan masyarakat sama-sama membuka ruang dialog, menghargai perbedaan pendapat, serta menjadikan kritik sebagai energi perbaikan, bukan sebagai ancaman”.
Sudah saatnya semua pihak memahami bahwa kritik yang jujur dan konstruktif adalah bentuk cinta paling tulus terhadap daerah. Karena orang yang peduli akan terus mengingatkan, meski terkadang suaranya tidak disukai oleh penguasa.
Demokrasi tanpa kritik hanyalah panggung kekuasaan tanpa kontrol. Dan kekuasaan tanpa kontrol adalah awal dari kehancuran. (Gadjah Puteh adalah Lembaga Pemerhati Sosial dan Kebijakan Publik)





